Breaking News
Loading...
Rabu, 05 Maret 2014

Nama Evan Dimas meroket bersama prestasi timnas Indonesia U-19. Dan inilah aneka cerita yang mengiringi kisah Evan Dimas Darmono, hingga menjadi pesepakbola muda yang diandalkan masa depan Indonesia.

Profil Singkat Evan Dimas


Untuk mengawali artikel, biografi singkat Evan Dimas...

Evan Dimas Darmono yang tinggi badannya 172 cm ini lahir di Surabaya tanggal 13 Maret 1995. Dia mulai belajar main bola di SSB Sasana Bhakti, lalu pindah ke SSB Mitra Surabaya pada 2007.

Sejak di SSB Mitra Surabaya, Evan aktif mengikuti ajang seleksi pemain sepakbola usia muda. Dia pernah masuk tim Medco Jawa Timur U-15 (2009), tim Porprov Surabaya (2009), tim Popda Jatim (2010), Persebaya U-15 (2010), Persebaya U-18 (2011), tim PON Jatim (2012), Timnas U-17 (2011), hingga Timnas U-19 (2013). Selain itu, dia juga pernah tercatat sebagai pemain tim Divisi II, Surabaya Muda, sebelum akhirnya bergabung dengan Persebaya 1927 pada Februari 2013.

Sebagai pemain junior, dia punya cukup banyak prestasi yang membuat namanya dikenal. Diawali dengan juara kompetisi U-15 bersama Mitra Surabaya pada tahun 2010, memenangkan event pencarian bakat The Chance pada 2012, dua kali juara HKFA International Youth Tournament bersama Timnas U-17 (2012) dan Timnas U-19 (2013), Juara Piala AFF U-19 (2013), dan yang paling aktual menjadi pahlawan yang meloloskan Timnas U-19 ke putaran final Piala Asia U-19 2014.


Dia Belajar dari Kegagalan


Dalam meniti karirnya di level junior, Evan Dimas pernah merasakan gagal. Hebatnya, dia tidak menyerah.

Salah satu momen yang membuat Evan Dimas termotivasi adalah, saat dia gagal membela SSB Karanggayam yang lolos ke putaran final Piala Danone 2007 di Perancis. Itu menjadi kekecewaan besar baginya, tapi Evan Dimas mampu bangkit.

"Saya mulai berlatih lebih keras untuk meningkatkan kemampuan dan membuktikan bahwa saya juga bisa"
- Evan Dimas

Evan Dimas juga pernah gagal lolos seleksi Tim SAD pada tahun 2011, sebuah tim muda yang dikirim berguru ke Uruguay. Parahnya, kegagalan kali ini disebabkan karena alasan yang lebih menyakitkan. Bukan salahnya, karena gara-gara masalah administrasi. Entah administrasi macam apa yang gagal diurus.

Namun kegagalan itu justru membuka kesempatan lebih banyak untuk Evan. Berkat tidak jadi berangkat ke Uruguay, dia jadi bisa ikut berbagi seleksi tim usia dini yang membuat levelnya naik secara berjenjang. Evan melakukannya mulai dari level lokal, dari tim Porda, PON, hingga akhirnya dipanggil timnas U-17. Ada berkah di balik musibah. Gara-gara gagal ke Uruguay, Evan akhirnya juga ikut sebuah event pencarian bakat, yang memberinya sebuah pengalaman berharga. Ceritanya ada di paragraf berikutnya..

Berguru di Barcelona


Yap, Evan Dimas pernah sesaat mencicipi latihan di FC Barcelona, dalam program Nike yang bertajuk "The Chance" edisi 2012.

Ini adalah event pencarian bakat pemain sepakbola dunia, yang bervisi memberi kesempatan para pesepakbola muda untuk merasakan training dan pelatihan profesional. Awalnya tim pencari bakat menyeleksi lebih dari 100.000 pemain dari 55 negara, untuk mendapatkan 100 pemain terbaik. Evan Dimas masuk dalam seleksi Top 100, sehingga berkesempatan mencicipi fasilitas latihan Barca dan menjadi "murid sesaat" Pep Guardiola (pelatih Barca saat itu) selama sepuluh hari.

Selengkapnya tentang program The Chance: NIKEinc.com/The-Chance

Dan ini adalah daftar 100 remaja yang sukses masuk final (Evan Dimas ada di halaman 12): The Chance 2012 Top 100 [pdf file]. Perhatikan baik-baik, bukan tidak mungkin salah satu dari mereka kelak akan benar-benar mengaktualisasikan bakatnya sebagai pemain sepakbola dunia. Dan tentu saja kita akan lebih senang, jika Evan Dimas termasuk diantaranya. Who knows.

Meskipun pada tahap berikutnya Evan Dimas gagal masuk top 16, setidaknya ini sudah menjadi pengalaman yang sangat berharga untuknya.

Evan Dimas dan Guardiola

"Saya pernah merasakan tangan dingin Pep Guardiola di tahun 2012, saat terpilih mewakili Indonesia di ajang Nike The Chance Regional Asia Tenggara"
- Evan Dimas.

Maka wajarlah jika pengalaman ini membuat Evan Dimas makin terinspirasi menjadi fans Barca, dan punya cita-cita tinggi untuk menjadi pemain Barcelona. Note: tidak pernah ada larangan untuk bercita-cita maksimal. Bonus: ekspos tentang Evan Dimas di facebook dan situs resmi Barcelona

Evan Dimas di Barcelona
Evan Dimas saat di Barcelona. Dalam foto terlihat juga Sergio Busquet, Alexis Sanchez, dan Thiago Alcantara

Sadar Pendidikan


Trend grafik prestasi yang menanjak tidak membuat Evan Dimas silau. Dia masih sadar pendidikan. Hal ini didapatnya berkat pengalaman selama mengikuti program "The Chance" di Barcelona.

Di Barcelona, Evan menyadari bahwa untuk menjadi pemain sepakbola profesional, skill saja tidak cukup. Selain butuh kemampuan mengolah bola, dia juga membutuhkan kemampuan bahasa Inggris. Saat mendapatkan kesempatan menikmati pelatihan sepuluh hari di Barcelona, pasti akan ada kerugian saat kesulitan mencerna instruksi pelatih yang menggunakan bahasa internasional. Sebuah pengalaman yang sedikit menyisakan rasa sesal, tapi ada pelajaran berharga yang bisa dipetik.

"Saya sangat merasakan, selama ini saya jarang masuk sekolah, lebih sering main sepakbola. Akan sangat terasa ketika berkumpul dengan orang-orang seperti di sana dan tidak bisa Bahasa Inggris. Makanya saya sadar kalau sekolah itu penting"
- Evan Dimas

Sebuah sikap yang bisa menjadi rahasia suksesnya di kemudian hari.

Setelah lulus dari SMA NU Shafta Lontar Citra, Evan Dimas kini melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Solial dan Politik (FISIP) jurusan Administrasi Negara, Universitas Dr Soetomo.

Berawal Dari Kesederhanaan


Sangat banyak kisah pesepakbola top yang berawal dari keluarga sederhana. Keluarga Lionel Messi sempat kesulitan membiayai pengobatan hormon pertumbuhan, Cristiano Ronaldo juga berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Background keluarga Evan Dimas pun mampu memberikan inspirasi tentang perjuangan. Berasal dari keluarga sederhana, Evan Dimas yang sepatu bola pertamanya hanya seharga Rp. 15.000 dan hanya bertahan tiga minggu itu tidak merasa terhadang untuk mengejar cita-cita.

"Kebanyakan sepatu saya diberikan oleh orang, daripada saya beli sendiri"
- Evan Dimas

Evan memang lahir di keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sekuriti, dan ibunya pernah menjadi seorang asisten rumah tangga. Namun dalam himpitan ekonomi, kedua orangtuanya tetap memberikan dukungan yang maksimal. Keren.

Foto Keluarga Evan dimas

Sayangnya.. Belum Pro.


Evan Dimas memang telah bergabung dengan Persebaya 1927 sejak Februari 2013 lalu. Namun dia tidak bisa bermain, hanya bisa ikut berlatih. Alasannya, karena statusnya masih pemain amatir.

Status profesional Evan Dimas masih belum mendapat pengesahan dari PSSI.  Diantara beragam alasan, salah satu dugaan yang memprihatinkan adalah karena Persebaya 1927 saat ini bukan merupakan klub yang diakui oleh PSSI di Liga Indonesia. Hmmm....

Sebagai sesama warga negara Indonesia yang ingin melihat pemain berbakat untuk berkembang, semoga permasalahan yang ini cepat kelar. Karena, mengutip komentar pelatih Timnas U 19 Indra Sjafri, tipikal pemain seperti Evan masih sangat jarang di Indonesia.

Source: The Story of Evan Dimas Darmono | Sepaxbola http://www.sepaxbola.info/2013/10/evan-dimas-darmono.html#ixzz2v1FpLlam
Copyright & Permissions: Konten boleh di-copy dg menyertakan kredit 'link aktif' sbg sumber. Sepaxbola.info berhak mengajukan delik aduan DMCA jika terjadi pelanggaran hak cipta.
Under Creative Commons License: Attribution
Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 comments:

Posting Komentar